perbincangan lama

Jalan tersebut itu tempat kami merangkak, sesekali aku merasa ingin berputar arah akibat iman dan kufur yang selalu bertengkar berebut kendali akal ini. 
.
Sering terbesit dalam hati, mengapa kita menolak untuk sujud pada si tanah itu, aah... Yang lalu tetap berlalu, meski kau ungkit dengan seribu kail ingatan tetap saja tak ada efek, sembari kuhisap gulungan tembakau bersama teman lamaku di depan taman yang tak berujung indahnya, 
"mengapa kita begitu sombong pada seonggok tanah lumpur, seakan kita ini yang paling mulia....? " dengan raut muka penuh tanda sesal ia berceloteh
"memang tak sepatutnya kita berlaku demikian pada si tanah, bodoh lagi hina sekali, bayangkan saja ketika api yang berkobar lalu di timbun tanah, maka tentu pasti sudah lenyap kita...."
Jawaban yang sangat menusuk nurani ini bak panah beracun yang dengan cepatnya meluncur mengenai jantung rusa.
.
Sesat lagi menyesatkan itu pilihan mu, namun ada banyak jalan lurus yang harus kita tempuh....
.
(IBLIS YANG INGIN KEMBALI KE SURGA)

Komentar